Cari Blog Ini

Senin, 11 Mei 2009

aku penyanyi jalanan

Aku penyanyi jalanan
Aku nyanyi di jalannya
Tempatku luas tetapi sempit
Luas karena dimana-mana ada jalan
Sempit karena dimana-mana orang mencari jalan

Jalanan rumah pertama dan terakhirku
Jalanan tempat orang-orang dilarang membuang sampah
Jalananku sekarang beda dengan dulu
Jalananku sekarang ongkosnya mahal

Dijalanan aku mendapat debu
Dijalanan aku menjadi manusia
Dijalanan banyak pilihan
Bukan hanya ke kiri atau ke kanan

Dijalanan pikiran dan hatiku merdeka
Oooh ooohh….

Aku penyanyi jalanan
Laguku bukan candu
Aku penyanyi jalanan
Diantara banyak jalan aku mencari jalan
Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

Dijalanan aku mendapat debu
Dijalanan aku menjadi manusia
Dijalanan banyak pilihan
Bukan hanya ke kiri atau ke kanan

Dijalanan pikiran dan hatiku merdeka
Oooh ooohh….

Aku penyanyi jalanan
Aku nyanyi di jalannya
Aku penyanyi jalanan
Laguku bukan candu
Aku penyanyi jalanan
Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

Rabu, 06 Mei 2009

Lagu Satu

Jalani hidup
Tenang tenang tenanglah seperti karang
Sebab persoalan bagai gelombang
Tenanglang tenang tenanglah sayang

Tek pernah malas
Persoalan yang datang hantam kita
Dan kita tak mungkin untuk menghindar
Semuanya sudah suratan

Oh matahari
Masih setia
Menyinari rumah kita

Tak kan berhenti
Tak kan berhenti
Menghangati hati kita

Sampai tanah ini inginkan kita kembali
Sampai kejenuhan mampu merobek robek hati ini

Sebentar saja
Aku pergi meninggalkan
Membelah langit punguti bintang
Untuk kita jadikan hiasan

Tenang tenang tenanglah sayang
Semuanya sudah suratan
Tenang tenang seperti karang
Bintang bintang jadikan hiasan

Berlomba kita dengan sang waktu
Jenuhkah kita jawab sang waktu
Bangkitlah kita tunggu sang waktu
Tenanglah kita menjawab waktu

Seperti karang
Tenanglah
Seperti karang
Tenanglah

JALAN MASIH PANJANG

Matahari bersinar dari balik tembok kaca...
Sinarnya putih mengusir rasa malas...
Diruang tamu para sahabat bicara apa saja....
Sadarkan aku dunia selalu menunggu...

Anak-anak didepan TV...
Menggoda ibu...
Suaranya bagai pedang nabi...

Duduk di kursi menghadap mesin membaca buku waktu......
Bersikap pasti agar tak oleng diserang haru biru.....
Cerita teman garuda nangkring di pelangi........

Waktu yang berjalan melindas sudah tidak tak berbekas........
Kalau saja kita bisa tenang terima segala gempuran....
Gairah bertahan tak bosan-bosan mengilik iman......

Haus darah didalam bibir........
Menggoda ayah.....
Amisnya aku ingin muntah......

Kembali ke diri menjalani sepi
Jernihkan pikiran tidaklah mudah
Menyalakan api menerangi bumi
Melihat kedepan merangkul teman
Jalan masih panjang

Matahari bersinar dari balik tembok kaca
Diruang tamu para sahabat bicara apa saja
Duduk di kursi menghadap mesin membaca buku waktu
Bersikap pasti agar tak oleng diserang haru biru

Waktu berjalan melindas sudah tidak tak berbekas
Kalau saja kita bisa tenang terima segala gempuran
Matahari bersinar dari balik tembok kaca
Mataharipun bersinar diatas batas
Sinarnya putih mengusir rasa malas

Anak-anak didepan TV
Menggoda ibu
Suaranya bagai pedang nabi

Haus darah didalam bibir
Menggoda ayah
Amisnya aku ingin muntah

Selasa, 05 Mei 2009

TERBUKA

Terbuka... terbukalah semua
Biarkan... cahaya bersinar
Terbuka... terbukalah semua
Biarkan... gairah bicara

Ketika mulai berbuat
Pastikan langkah jangan goyah

Selamat tinggal semua yang kelam
Mencair sudah yang beku
Kenapa mesti diselimuti gagap
Semua sudah terjawab

Kemarin... sempat ku terlena
Sekarang... aku pun terlena
Tetapi... kemarin dan sekarang berbeda
Kemarin kemarin... sekarang sekarang

PUKUL 2 MALAM

Pukul dua malam kehabisan rokok
Pergi kedapur minum segelas air
Perempuan besar tidur didepan TV
Perempuan kecil menginap di rumah paman

Lewat pintu depan membuka pintu gerbang
Sepuluh langkah gerimis datang
Kembali ke rumah mengambil payung
Warnanya merah dan kuning dengan merk Golden Truly Departemen Store

Jalanan sepi rumah-rumah sepi mobil-mobil sepi
Anjing herder tua mengigil kedinginan
Melihat curiga padaku namun tidak menggonggong
Hansip atau Satpam menyapa sambil main catur

Pukul dua malam kehabisan rokok
Separuh kakiku basah karena hujan
Tukang rokok kelas memakai nadas
Tidur diluar diselimuti karung beratap plastik
Istrinya begadang menunggui suaminya

Sepuluh ribuan keluar dari kantong
Sebungkus rokok buatan luar negeri ganti ke kantong
Aku pulang kembali menyapa yang ronda dan anjing herder tua
Pintu gerbang, dapur dan perempuan besar sudah masuk ke dalam kamar

Payung merah putih membuatku basah
Aku lempar begitu saja ketempat yang kering
Kupergi ke kamar mandi tuk bersihkan diri
Kuhisap sebatang rokok luar negeri yang baru ku beli

Kamis, 30 April 2009

Cendrawasih

Sayap sayap cinta bagaikan cendrawasih
Kabarkan berita duka alam raya
Hati bumi luka anak durhaka
Terjungkal merintih menghiba

Rindu tergoda oleh tembok
Dendam menampakkan wajah gelap
Tetes air mata para malaikat
Berjatuhan kelahan berdebu

Tak hirau akan kesuburan
Kering menindas nurani

Sayap sayap cinta bagaikan cendrawasih
Kabarkan cerita menyayat
Bulan berdengung didalam bayangan
Menghadirkan rupa yang tajam

Dibibir tebing kelam tinggi
Lirih terdengar angin berdoa
Gairah harum lembut kebebasannya
Laksana aroma bunga hutan

Tercium dari puncak gunung
Gemetar sadar terancam

Sayap sayap cinta bagaikan cendrawasih
Di buru luka karena keindahannya
Kesadaran bersinar dengan merdeka
Nyanyi jiwa melebihi tanya

Ada apa gerangan wahai cendrawasih ?
Lingkar matamu hitam letih batinmu
Beratkah deritamu wahai cendrawasih ?
Murung paruhmu kicaukan keluh

Ada apa gerangan ?

Sayap sayap cinta membela bianglala
Sayap sayap cinta membela cakrawala
Sayap sayap cinta membela nuraninya

CHIKAL

Kerbau dikepalaku ada yang suci
Kerbau dikepalamu senang bekerja
Kerbau disini teman petani

Ular dinegara maju menjadi sampah nuklir
Ular didalam buku menjadi hiasan tatto
Ular disini memakan tikus

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Kerbauku teman petani
Ularku memakan tikus

Kerbauku besar kerbauku seram
Tetapi ia bukan pemalas
Hidupnya sederhana

Sancaku besar sancaku seram
Mengganti kulit keluar sarang makan dan bertapa
Hidupnya sederhana

Ularku ular sanca
Kerbauku kerbau petani
Ularku memakan tikus
Kerbauku teman petani

Walau kerbauku bukan harimau
Tetapi ia bisa seperti harimau
Kerbauku tetap kerbau
Kerbau petani yang senang bekerja

Sancaku melilitnya
Kerbauku tidak terganggu
Karena sancaku dan kerbau
Temannya petani

Lalu dimana anak anak sang tikus?

Bayi bayi bayi
Murni dan kosong

Bayi bayi bayi
Bayi ya bayi

Kalau kita sedang tidur dan tiba tiba saja kita terbangun
Karena lubang hidung kita terkena kumis harimau
Mungkin kita akan lari ya lari
Tetapi bayiku tidak

Bukan karena bayiku belum bisa berlari
Aku percaya
Aku percaya

Bayiku tidak akan pernah berfikir
Bahwa harimau itu jahat
Bayiku menarik narik kumis
Dan memukul mukul mulut harimau
Harimau malah memberikan bayiku mainan

Bayiku menjadi bayi harimau
Bayi harimau anak petani
Seperti sanca melilit kerbau
Ia ada di gorong gorong kota

Lantas apa agamanya?

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku murni dan kosong
Ia ada di gorong gorong kota

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku bayi harimau
Ia ada di gorong gorong kota

Bayi bayi bayi
Murni dan kosong

Bayi bayi bayi
Bayi harimau

Bayi bayi bayi
Yang berkalung sanca

Bayi bayi bayi
Yang di susui kerbau

Beranda malam dibangku terminal

Sebentar lagi pagi kan datang
Walau sang bulan malas untuk pulang
Di bangku terminal benakmu bertanda
Gelisah seorang merasa terbuang

Sedetik ingatnya seribu angannya
Dambakan malam terus berbintang
Di bawah sadarnya nasib bercerita
Hangatnya surya bara neraka

Sampai kapan kau akan bertahan
Dicaci langit tak sanggup menjerit
Hitam awan pasrah kau jilati
Kusam kau dekap dengan muak kau lelap
Pagi yang hingar dengan

Selasa, 21 April 2009

BERSIH DAN SUCINYA HATI PETANI

Suatu hari ada dua orang petani suami isteri yang telah lama mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk berangkat haji, dan pada tahun yang telah ditetapkan di mana dia dan sang isteri pasti berangkat haji, ketika pagi-pagi pada saat matahari terbit keduanya sudah bergegas akan meninggalkan kampung halamannya berbulan-bulan untuk memenuhi panggilan ilahi.

Dipagi hari yang cerah mereka berdua sudah berkemas rapi serta mulai berpamitan dengan tetangga dan sanak saudaranya. Namun tiba-tiba tidak jauh dari rumahnya... dia mendengar suara rintihan kesakitan tetangganya dan ketika dia lihat ada seorang bapak sedang mengerang kesakitan menahan rasa sakit yang sangat. Sementara disampingnya ada isteri dan anaknya yang kebingungan harus berbuat apa karena sama sekali tidak memiliki uang sedikitpun.

Melihat hal itu, sepasang petani yang tadinya siap untuk berangkat haji mengurungkan niatnya, serta berkatalah sang suami kepada sang isteri petani ini, "kita berangkat haji sementara tetangga kesakitan, bagaimana kalau niat berangkat haji kita diundur untuk tahun depan saja? dan sang isteripun menjawab, "terserah gimana baiknya aja kanda,''.
Maka keputusan keduanya pun mengundurkan niat naik hajinya tahun ini demi tetangganya yang sedang sekarat menahan rasa sakit itu.

Suatu hari di surga , Tuhan sedang bertanya kepada para malaikatnya... berapa jumlah orang naik haji tahun ini?,'' maka para malaikatnya pun menjawab," hanya ada dua orang ya tuhanku,'' Tuhan pun berkata,'' siapa mereka?,'' malaikatpun menjawab lagi,'' mereka tidak datang ke mekah tetapi hatinya sudah berhaji, mereka adalah pasangan bapak dan ibu petani yang modal berangkatnya diberikan kepada tetangganya yang lagi sakit demi menyelamatkan jiwa tetangganya itu,'' betapa mulianya jiwamu wahai petani suci,... kata malaikat bergumam kagum.

from... nanang qosim yusuf '' the 7 awareness...


Rabu, 15 April 2009

PEREMPUAN TANGGUH

Saat embun pagi masih memeluk kuat ranting2 pohon, saat suara kokok ayam jantan mengumandang merdu, saat gulita masih menemani, saat semuanya masih terlelap dalam indahnya mimpi, seorang perempuan tua sudah terbangun dan dengan tangan sucinya beliau menyiapkan makanan dengan menu alakadarnya untuk sarapan pagi anak-anaknya terkasih.

Waktu masih menunjukan pukul 03 dini hari pagi, tapi beliau sudah siap bergegas untuk melangkah pergi. Mata indahnya menatap wajah anak-anaknya yang lagi tertidur pulas... didekatinya lalu di ciumnya kening anak-anaknya tadi sambil membenahi selimut yang terlepas dari tubuh anak-anaknya. Sementara kaki rapuhnya melangkah dengan pasti dan dengan cekatan tangan kanannya menyambar rinjing tua yang tergeletak dipojok ruangan kumuh itu.

Pagi itu... dengan satu kendaraan istimewanya yang beliau miliki yaitu sepeda kumbang peninggalan waktu penjajahan jepang yang masih tersisa dan harta paling berharga yang beliau punya, perempuan tua itu siap mengayuh sepeda kumbangnya menuju pasar untuk belanja sayur-sayuran untuk di jajakan kembali pagi harinya.

Tak pernah ada keluh, tak pernah ada rasa lelah, walau setiap pagi harus terbangun dan setiap pagi pula beliau harus mengayuh sepeda kumbang miliknya menuju pasar yang jauhnya kira-kira 10KM dari tempat tinggalnya. Dalam hatinya cuma beripikir, alangkah indahnya hidup ini bila bisa menafkahi dan menyekolahkan anak-anaknya sama seperti anak-anak tetangga lainnya yang mampu.

Setelah beradu argumen dipasar dan tak luput dari tawar menawar dengan para penjual sayuran, perempuan tua ini kembali pulang dengan membawa sekeranjang sayur-sayuran dsb. Setibanya di rumah beliau menata barang dagangannya diatas sebuah keranjang dan sedikit berharap.... barang dagangannya bisa laku terjual sebelum matahari terbenam. Setelah beres menata barang dagangannya perempuan tua ini siap melangkahkan kakinya dan siap menjajakannya, tapi.... belum juga kaki melangkah tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.

Matanya menatap bulir-bulir air yang jatuh dari langit dan berharap hujan akan segera reda, tapi sudah satu jam ditungggu hujanpun belum juga mau berhenti. Akhirnya dengan terpaksa beliau melangkahkan kaki rapuhnya untuk menjajakan barang dagangannya walau dalam kondisi hujan. Basah kuyup dan cuma bermodalkan topi dari anyaman bambu beliau melangkah pasti sambil menggendong barang dagangannya, ditanggannya yang satu lagi menjinjing rinjing berisi sayur-sayuran segar.

Dari satu pintu ke pintu yang lain beliau mulai menawarkan barang dagangannya, tak takut masuk angin, tak takut kedinginan beliau tetap dengan semangat yang tinggi mendatangi para pelanggan setianya.

Pukul 16 sore perempuan tua sudah kembali ke rumah. Bajunya sudah tak karuan rambutnya acak-acakan, tapi raut mukanya tetap ceria... dia sangat senang karena barang dagangannya 80% laku terjual. Lalu beliau terduduk lesu dan sambil meneguk secangkir kopi hangat, beliau mulai menghitung uang recehan yang beliau perjuangkan dari pagi buta sampai sore tiba. Receh demi receh beliau hitung dengan teliti dan sampai akhirnya setelah terhitung semua totalnya ada 25 ribu rupiah., lalu beliau mengucapkan ALHAMDULILLAH HIRABBIL ALAMIN... hari ini punya untung 10 ribu rupiah gumamnya girang.



"Masa alllah begitu perkasanya perempuan ini, dari pagi buta sampai sore menjelang dan cuma mendapatkan keuntungan 10ribu rupiah tapi dia tetap girang, rasanya tak sebanding sekali dengan semua pengorbanan dan perjuangan dia, tapi salutnya dia masih saja mengucapkan syukur pada tuhan.

Pelajaran bagi kita semua.... semoga kita dapat belajar dari semangat sosok perempuan ini... beliau begitu ikhlas bekerja siang dan malam dengan hanya satu tujuan ingin melihat anak-anaknya sekolah dan bahagia.

Terima kasih emak..... jasamu tak akan pernah terlupakan.... walau dirimu telah tiada tapi semangatmu akan selalu ada dihatiku....



Senin, 13 April 2009

REMBULAN

Kau jauh dan kini hidup bersamanya
Ukir sebuah cerita tentang sebuah mahligai
Tanpa ada rasa cinta kau jalani semuanya
Demi sebuah wacana bahagiakan mereka...

Kau rela korbankan asa
Harap nan membara sirna seketika
Tatkala semuanya terjadi
Ringkik pilu menyelimutimu
Sedu merdu melintasi dinding-dinding pilu
Setia menghiasi hari-harimu yang sepi..

Wahai purnamaku.....
Sampai kapan kau akan setia menyinariku?
Sampai kapan kau akan hilang dari hatiku?
Tak kuasa bila kuharus melupakanmu
Karena kutahu dirimu begitu berarti buat diriku.....

Wahai purnama....
Terangilah diriku walau cahyamu bukanlah cuma untukku
Tetaplah bersemayam dalam hatiku walau tak mungkin lagi kau kudekap
Peluklah mimpi2 kita dulu sampai kita terlelap
Walau tak berujung....
Kita yakin Tuhan akan memeluk dan mewujudkan mimpi2 kita......

Sabtu, 04 April 2009

Rumput Liar

Aku adalah rumput liar...
Tapi aku bukanlah seorang pengecut...
Aku juga bukan seorang penjilat...
walau aku skedar rumput liar
Tapi aku ingin menjadikan diriku berguna bagi orang lain

Aku hanyalah rumput liar..
Aku tak mau tumbuh menjulang seperti pohon kelapa...
Karena aku yakin
Aku pasti tak mampu menepis angin dan badai yang menerjang tubuhku
Semakin tinggi semakin kencang pula angin dan badai menerpanya....

Aku hanyalah rumput liar
Walau setiap hari terinjak
Tapi gak apa2....
Yang penting aku bisa hidup
Dan selalu tegar walau setiap hari terinjak si pejalan kaki
Karena aku hanyalah rumput liar....

Senin, 23 Maret 2009

PANJIKU

Sepi terkadang menemani...
Sunyi terkadang sepi sendiri...
Jauh dari upuk bukit ku berdiri...
Lolongkan suara akan sebuah tanya... dan
Ternyata hanya gema yang mampu menjawabnya...

Panji-panji keyakinan tlah mulai ku kobarkan
Rangkul asa merajut mimpi-mimpi..
Tinggalkan jejak demi jejak...
Akan semua masa laluku yang kelam...
Yang kelam..... kelam..... dan kelam....

Di bumi aku berpijak....
Tengadahkan kedua tangan berharap menghiba...
Pada-Mu ya Rabbyku... aku bersimpuh...
Luluh lantak tak berdaya tanpa kasih-Mu

Sayap-sayap patah ini...
Tetap akan ku bawa terbang setinggi langit
Menerjang derasnya angin....
Menyibak semua rintang yang datang
Karena aku yakin...
Panjiku masih tetap kokoh berdiri...
Bersama satu harapan yang akan datang...



Minggu, 22 Maret 2009

Penjara Hidup


Ketika semua angan ku lepas dari tubuh

Terbaring aku…aku terjebak…

Hilang kendali…sulit tuk lepaskan beban raga ku ini

Aku ter himpit dalam penjara hidup ku sendiri

Biarkanlah ku lepas semua ini dan biarkan tak kembali

Rangkulah aku wahai peri…

Bawalah aku beranjak dari sini…

Hilang….semua angan dan impian ku..

Membusuk aku dalam ringkihnya tubuh ku ini

Tersiksa batinku…, dalam penjara hidup

Muak…akan semua ini…

Biarkan aku mati…biar hilang semua rasa penat ini…

Hidupku tak berdaya…hilang tak berarti

Bagai sampah terhempas lepas

Terbuang….tercampak….tak terkendali

Akankah ini kan berakhir…sgala kesesatan yang takberarti

Biarkan Hilang……musnah….

MY LIFE

Entahlah…..
Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini…
Apa semua ini adalah kenyataan….
Ataukah semua ini hanya mimpi….

Aku sadar
Ini bukanlah mimpi…
Tapi ini realita yang harus ku terima dengan hati ikhlas
Ternyata aku hanyalah insan sebatangkara yang hina.

Aku rapuh….
Aku lemah….
Aku ternyata tak ada lagi arti di mata mereka…
Aku hanyalah seonggok sampah yang menjijikan…
Yang seorangpun seakan tak sudi untuk meraihnya…

Tuhan…
Walau aku tak bernilai dimata mereka…
Aku mohon padaMu…
Jadikanlah diri iniseberkas sinar untuk menyadarkan mereka..
Bahwa aku juga manusia yang punya akal dan pikiran

Aku juga punya hati….
Sama seperti kalian yang membaca celotehanku ini…

KEPARAT


Anjing….

kau buat aku Gila….

Terpaut erat rasa bayanganmu di dalam kepala

Kau buat aku hancur tak berbekas diri ini,


Penat akan semua karena kehadiranmu

Sialan kau dasar Keparat….

Pergilah menjauh dari tubuhku


Keparat….

Enyahlah kau dari pikiranku

Rasakan kepedihanmu sendiri...

Apapun yang kau mau.......


Jalang…. dasar kau penggoda

Hadirkan rasa masa laluku yang tlah lama hilang

Bangkitkan gairah jiwaku akan dirimu

Penuhi nafsuku dengan bayanganmu dalam hidupku

Keparat…. dasar kau Jahanam

Rabu, 18 Maret 2009

Rinduku buat Ibu dan Bapak

Dulu dikala sore menjelang magrib kita berkumpul...
Becanda diruang keluarga di iringi canda tawa....
Ada kehangatan dan kedamaian kala masih bersama....
Ibu dan Bapak tercinta.....

Sesak rasanya kala teringat semua itu...
Tanpa kusadari ternyata....
Bapak sudah dua tahun pergi untuk selamanya...
Dan Ibu hampir setaun juga meninggalkanku untuk selamanya....

Kini di sore menjelang magrib ku tertegun seorang diri...
Tak ada lagi sosok bapak yang slalu mengumbar banyak cerita
Tak ada lagi sosok Ibu yang selalu nimpalin cerita Bapak
Tak ada lagi kasih sayang dari dua orang itu yang sangat aku kasihi...

Hujan belum juga reda di sore ini
Ku masih teringat saat-saat hujan seperti ini
Dikala masih ada Ibu dan Bapak....
Dikala mereka masih ada disampingku
Dikala mereka masih becanda ria denganku

Ibu.... maafkan anakmu ini
Bapak...maafkan putera nakalmu ini...
Kini setelah kalian pergi untuk selamanya..
aku... benar2 membutuhkan orang sepertimu yang bisa memperhatikan aku
Yang bisa membimbing aku...
Yang bisa nasehatin aku....

Ibu...
Bapak....
Aku selalu berdoa
Semoga Ibu dan Bapak tenang di alam sana
Aku slalu panjatkan do'a ditiap2 lembar malamku...
Semoga Bapak dan Ibu dapat tempat yang layak disisi ALLAH SWT... Amin....